Friday, January 30, 2015

MATERI TANAH LONGSOR

BAB 1
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah

Jawa Tengah mempunyai 35 kota atau kubupaten. Semarang sendiri merupakan kota pusat atau ibukota jawatengah. Luas wilayah kota Semarang yaitu 373,70 km  Dimana kota Semarang terbagi menjadi 16 kecamatan dan 177 kelurahan.  Dengan jumlah penduduk  pada tahun 2013 adalah sebesar 1.739.989 jiwa.

Kota Semarang merupakan salah satu kota besar yang unik. Dikarenakan kota ini terbagi dalam dua alam yang kontras dengan jarak yang sangat berdekatan.kawasan kota bawah berbatasan langsung dengan pantai, sedangakan kawasan perbukitan jaraknya sangat pendek. Kawasan kota yang berada dibawah tentu rawan banjir dan rob dikarenakan jaraknya dengan pantai yang sangat dekat dan padatnya lahan-lahan yang dijadikan bangunan menjadikan sulit sekali ditemukan tumbuhan atau pohon besar dikota ini, hampir tidak ada sela antara bangunan yang satu dengan yang satunya. Sementara daerah perbukitan sangat rawan longsor tujuh kecamatan dari 16 kecamatan dikota Semarang memiliki titik rawan longsor. Ketujuh kecamatan itu adalah Gunungpati, Gajahmungkur, Manyaran, Tembalang, Ngaliyan, Mijen, dan Tugu. Kontur tanah dikecamatan-kecamatan itu  sebagian adalah perbukitan dan daerah patahan dengan struktur tanah yang labil.

Baru-baru ini Trangkil, daerah atas kota Semarang terjadi longsor yang menjadikan satu Rt kehilanagn tempat tinggalnya. Hal ini dirasa tidak mengherankan dikarenakan melihat letak goegrafisnya yang berada dilereng-lereng perbukitan, menjadikan daerah ini rawan longsor. Musim hujan sangat berpotensi menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral.

B.       Rumusan Masalah
1.      Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tanah longsor?
2.      Bagaimana proses terjadinya tanah longsor?
3.      Apa saja dampak yang timbul dari bancana tersebut?
4.      Apa solusi dari bancana tanah longsor?

C.        Tujuan
1.      Mengetahui penyebab dan proses terjadinya tanah longsor
2.      Mengetahui dampak terjadinya bencana tanah longsor                                         
3.      Memberikan solusi melalui empat pilar konservasi






BAB II
PEMBAHASAN


Penyebab Tanah Longsor

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antarlempeng tersebut, terbentuk daerah yang memanjang di sebelah barat Pulau Sumatera, sebelah selatan Pulau Jawa, hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan tersebut adalah terbentuknya palung samudra, lipatan, punggungan, dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api dan sebaran sumber gempa. Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah 129 atau 13 persen dari jumlah gunung api aktif dunia. Dengan demikian, Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber di dasar laut atau samudra, dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempeng dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggung dengan kemiringan sedang hingga terjal, berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkualitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.

A.    Penyebab terjadinya tanah longsor

Tanah longsor  atau dalam bahasa inggris disebut Landslide, adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau material campuran tersebut, bergerak kebawah atau keluar lereng. Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor tersebut yaitu :

1.      Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan.

Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.

Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.

2.      Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

3.      Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

4.      Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.

5.      Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

6.      Getaran 
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

7.      Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

8.      Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

9.      Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

10.  Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

11.  Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri :
a.      Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda
b.      Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur
c.       Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landau
d.      Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah
e.      Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama
f.        Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.
g.      Longsoran lama ini cukup luas.

12.  Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki cirri :
·         Bidang perlapisan batuan
·         Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
·         Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat
·         Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
·         Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat
·         Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.

13.  Penggundulan hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.

14.  Daerah pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.



B.     Proses Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Jenis-Jenis Tanah Longsor :

1.        Longsoran Translasi                                                                           
longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2.        Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

3.        Pergerakan Blok
pergerakan Blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini juga longsoran translasi blok batu.

4.        Runtuhan Batu
runtuhan Batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak kebawah dengan jatuh bebas.umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung, terutama didaerah pantai. Batu-batu yang besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

5.        Rayapan Tanah
Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama, longsor jenis rayapan ini bisa menyebab-kan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6.        Aliran
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter, seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.


Gejala Umum Tanah Longsor
·         Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
·         Biasanya terjadi setelah hujan.
·         Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
·         Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.



C.    Dampak bencana tanah longsor
1.      Korban jiwa
Kebanyakan bencana alam yang terjadi dinegeri ini memakan korban jiwa. Begitu juga bencana tanah longsor. bencana tanah longsor memakan korban karena biasanya terjadi pada saathujan deras. Sudah tentu pada saat hujan deras orang-orang sedang berkumpul dirumah. Sedangkan itu bencana tanah longsor datang tiba-tiba.

Masyarakat sulit menyelamatkan diri karena ketika tanah longsor datang mereka langsung tertimbun tanah ataupun bebatua  yang ada disekitar. Cara mengevakuasi korbanpun tidak semudah yang kita bayangkan.para relawanpun akan sangat berhati-hati mengevakuasi para korban.

Selain mereka kesulitan mengevakuasi, mereka juga harus waspada jika ada susulan tanah longsor. bahkan ada yang sampai beberapa hari korban korban tanah longsorbaru ditemukan. Namun terkadang ada pula korban tanah longsor yang tidak ditemukan jasadnya Karen proses evakuasi yang begitu sulit. Denga demikian bencana tanah longsor yang terjadi memakan korban jiwa.

2.      Rusaknya infrastuktur
Tanah longsor juga mengakibatkan rusaknya infrstuktur yaitu pemukiman penduduk. Pemukiman penduduk pastinya akan mengalami rusak yang parah.bahkan tanah longsor juga mengakibatkan rusaknya jalan dan jembatan yang menuju arah terjadinya tanah longsor. hal ini juga menjadi kendala pada saat evakuasi korban.

Selain itu dampak dari tanah longsor yaitu rusaknya sarana kesehatan, pendidikan dan tempat peribadatan. Jika dihitung materinya maka bencaa ini selain memakan korban jiwa juga merugikan dalam hal materi terutama bagi masyarakat sekirat tanah longsor.

3.      Rusaknya sumber mata pencaharian warga
Yang dimaksud rusaknya sumber mata pencaharian warga yaitu kebanyakan warga yang berada dilereng gunung mereka bekerja dibidang pertaian, peternakan, pehutanan dan perkebunan.  Dengan adanya bencana tanah longsor itu, sudah tentu lahan yang mereka gunakan untuk becocok tanam, baternak, berkebun rusak karena bancana tanah longsor ini.

Warga sekitar menjadi kehilangan mata pencaharianna sehari-hari. Selain lahan mereka rusak merekapun tidak bisa menikmati hasil panennya. Bahkan bagi peternak merekapun harus rela kehilangan hewan ternaknya.

4.      Buruknya sanitasi lingkungan
Akibat tanah longsor menjadikan sanitasi lingkungan  buruk. Terutama pada saat bencana tanah longsor saluran air bersih menjadi terputus. Padahal air adalah hal yang sangat mendukung kehidupan manusia atau sangat penting sekali.





D.    Solusi terhadap bencana tanah longsor

Solusi terhadap bencana longsor melalui empat pilar utama :
1.      Departemen pendidikan nasional
Departemen pendidikan nasional sudah semestinya tanggap dalam berbagai masalah yang terjadi dimasyarakat, begitu pula dengan berbagai bencana yang terjadi. Akhir-akhir ini banyak terjadi bencana tanah longsor yang disebabkan berbagai hal, seperti hujan, penggundulan lahan, dan lain sebagainya. Adapun hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam hal ini Departemen pendidikan yaitu :

pendidikan sekolah anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah seharusnya sudah diberikan pengajaran mengenai pendidikan lingkungan hidup, dengan cara penanaman sikap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, merawat atau memelihara lingkungan, tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan mengimplementasikan konservasi dalam bidang akademik, salah satunya dengan cara menanamkan nilai-nilai spiritual, social, pengetahuan dan keterampilan, serta disisipkan melalui perangkat pembelajarannya. Disamping itu diberikan juga pengetahuan mengenai isu permasalahan lingkungan yang selanjutnya dapat menggerakkan peserta didik untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.

2.      Instansi Pemerintah
a)       Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Peran Badan Penanggulangan Bencana dalam menanggulangi bencana diantaranya :
Pertama adalah menghilangkan atau secara signifikan mengurangi kemungkinan terjadinya bencana. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan,

Kedua adalah mengurangi besarnya dampak dan keganasan bencana dengan mengubah karakteristik ancaman, meramalkan atau mendeteksi potensi bencana (sistem peringatan dini), atau mengurangi kerentanan dengan memperbaiki unsur-unsur struktural dan non-struktural masyarakat.  Bila bencana tidak dapat terhindarkan lagi,

Ketiga adalah mempersiapkan pemerintah dan masyarakat untuk menghindari atau merespon bencana dengan tepat dan efektif sehingga kerugian dapat dikurangi. Strategi terakhir ini mencakup upaya meningkatkan kapasitas masyarakat untuk dengan secepatnya memulihkan diri setelah terjadi bencana danmenguatkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.  Jadi strategi penanggulangan bencana tidak terbatas pada tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana saja, tetapi juga meliputi upaya membangun ketangguhan masyarakat untuk menghadapi ancaman bahaya bencana.

b)      Balai Bumi Pekemahan
Balai Bumi Perkemahan menyediakan bibit-bibit yang dapat digunakan masyarakat untuk menanam pada daerah yang berpotensi longsor, misalnya di lereng dekat pemukiman  atau rumah warga.    Lembaga Swadaya Masyarakat.

Masyarakat bekerja sama dalam memelihara lingkungan, misalnya bersama-sama menanam tanaman pada tanah yang berpotensi longsor dengan pohon yang akar-akarnya kuat sehingga tetap menjaga kestabilan tanah, selain itu dapat juga dibentuk terassering dan ditanami tanaman-tanaman yang dapat dikonsumsi warga atau dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alamnya.

c)        Lembaga hokum
Membentuk peraturan mengenai kewajiban menjaga lingkungan serta dibentuknya peraturan yang memuat hukuman bagi masyarakat yang merusak lingkungan baik itu menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, mengalih fungsikan lahan, dan kegiatan lainnya yang berpotensi pada kerusakan lingkungan.





BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor adalah air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. Gejala-gejalanya yaituMunculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing,Biasanya terjadi setelah hujan,Munculnya mata air baru secara tiba-tiba,Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

B.      Saran
Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain :
·         Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
·         Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pembangunan)
·          Vegetasi kembali lereng-lereng.
·          Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.